Seorang bekas pramugari yang bekerja di sebuah airlines swasta yang tidak mau disebutkan namanya, memperkirakan bahwa 60-70 persen pilot maskapai swasta mengkonsumsi narkotik. Perkiraan itu diungkapkan pramugari tersebut berdasarkan pengalaman dia sendiri, maupun dari informasi para teman-temannya sesama pramugari, yang selama ini masih aktif bekerja. Menurut informasi dia, sekitar 6-7 orang dari 10 pilot adalah seorang pengguna sabu-sabu.

Pramugari tersebut bergabung dengan salah satu maskapai swasta nasional pada tahun 2006. Saat itu dia mendapatkan gaji sekitar Rp 3-4 juga per bulan, dengan upah overtime Rp. 17.500 per jam. Saat terbang dari satu kota dan harus menginap di saja, dia dan kru penerbangan yang lain, kerap huru-hara di tempat hiburan malam. Gaya hidup seperti itulah yang akhirnya membuat si pramugari tersebut memutuskan untuk berhenti berprofesi sebagai pramugari, pada Agustus 2008.

Sementara itu, menurut Direktur penindakan dan Pengejaran Badan Narkotika Nasional (BNN), Benny Mamoto, peredaran narkotik di antara para pilot dan awak penerbangan berlangsung antar teman. Sabu yang dikonsumsi oleh Syaiful Salam, pilot Lion Air yang ditangkap Sabtu lalu di Surabaya, ataupun rekan satu maskapainya, Hanum Adhyaksa, yang lebih dulu ditangkap pada 10 Januari di Makassar, tidak dipasok oleh jaringan khusus. Sabu tersebut diperolah antar teman sesama pilot, dari jaringan biasa.

Menteri Perhubungan E.E. Mangindaan menyatakan bahwa pihaknya masih mencari formula yang tepat untuk mencegah kasus narkotik di lingkungan awak penerbang. Konsultasi sedang dilakukan ke BNN dan juga Kementrian Kesehatan. Rencana tersebut masih disusun, karena baru pertama kali ini menemukan kasus seperti ini.

Juru bicara PT Lion Mentari Airlines, Edward Sirait, mengatakan bahwa Lion Air mendukung program BNN dan Kementrian Pehubungan untuk membersihkan pilot dari penyalahgunaan narkotik. Hal tersebut demi menciptakan transportasi udara yang aman. Bahkan dari pihak Lion Air menyatakan siap membantu pemerintah dalam menangani kasus narkotik, yang telah melibatkan salah satu pilotnya tersebut.
Seorang bekas pramugari yang bekerja di sebuah airlines swasta yang tidak mau disebutkan namanya, memperkirakan bahwa 60-70 persen pilot maskapai swasta mengkonsumsi narkotik. Perkiraan itu diungkapkan pramugari tersebut berdasarkan pengalaman dia sendiri, maupun dari informasi para teman-temannya sesama pramugari, yang selama ini masih aktif bekerja. Menurut informasi dia, sekitar 6-7 orang dari 10 pilot adalah seorang pengguna sabu-sabu.

Pramugari tersebut bergabung dengan salah satu maskapai swasta nasional pada tahun 2006. Saat itu dia mendapatkan gaji sekitar Rp 3-4 juga per bulan, dengan upah overtime Rp. 17.500 per jam. Saat terbang dari satu kota dan harus menginap di saja, dia dan kru penerbangan yang lain, kerap huru-hara di tempat hiburan malam. Gaya hidup seperti itulah yang akhirnya membuat si pramugari tersebut memutuskan untuk berhenti berprofesi sebagai pramugari, pada Agustus 2008.

Sementara itu, menurut Direktur penindakan dan Pengejaran Badan Narkotika Nasional (BNN), Benny Mamoto, peredaran narkotik di antara para pilot dan awak penerbangan berlangsung antar teman. Sabu yang dikonsumsi oleh Syaiful Salam, pilot Lion Air yang ditangkap Sabtu lalu di Surabaya, ataupun rekan satu maskapainya, Hanum Adhyaksa, yang lebih dulu ditangkap pada 10 Januari di Makassar, tidak dipasok oleh jaringan khusus. Sabu tersebut diperolah antar teman sesama pilot, dari jaringan biasa.

Menteri Perhubungan E.E. Mangindaan menyatakan bahwa pihaknya masih mencari formula yang tepat untuk mencegah kasus narkotik di lingkungan awak penerbang. Konsultasi sedang dilakukan ke BNN dan juga Kementrian Kesehatan. Rencana tersebut masih disusun, karena baru pertama kali ini menemukan kasus seperti ini.

Juru bicara PT Lion Mentari Airlines, Edward Sirait, mengatakan bahwa Lion Air mendukung program BNN dan Kementrian Pehubungan untuk membersihkan pilot dari penyalahgunaan narkotik. Hal tersebut demi menciptakan transportasi udara yang aman. Bahkan dari pihak Lion Air menyatakan siap membantu pemerintah dalam menangani kasus narkotik, yang telah melibatkan salah satu pilotnya tersebut.

Post a Comment

 
Top

Powered by themekiller.com