BLT atau Bantuan Langsung Tunai adalah kompensasi yang diberikan pemerintah kepada masyarakat miskin per keluarga, karena kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi. BLT yang akan diberlakukan mulai bulan depan akan dinaikkan nominalnya dari Rp 100 ribu per keluarga menjadi Rp 150 ribu per keluarga.

Program bantuan tunai diberikan oleh pemerintah sejak tujuh tahun lalu. Pada tahun 2005 pemerintah mengucurkan dana Rp 4,62 triliun untuk 15, 4 juta rumah tangga. Dana diberikan setiap tiga bulan dengan besar sebelumnya adalah Rp 100 ribu. Setahun kemudian, jumlah penerima bantuan meningkat menjadi 17,7 juta rumah tangga miskin. Sedangkan pada tahun 2006 anggaran untuk program ini adalah Rp 18,6 triliun.

Setelah terhenti selama setahun, program ini kembali digelar pada 2008. Jumlah dana yang dikucurkan Rp 14,1 triliun untuk 19,1 juta rumah tangga selama tujuh bulan dengan besaran Rp 100 ribu per bulan. Pada 2009, pemerintah menganggarkan Rp 3,81 triliun untuk 18,5 juta rumah tangga selama dua bulan.

Sedangkan untuk tahun 2012 ini, Agung Laksono selaku Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat mengatakn bahwa begitu harga BBM di naikkan, maka BLT tersebut juga langsung berlaku. Jadi otomatis BLT tersebut akan diberlakukan bulan depan tanpa ada selisih waktu. BLT tersebut akan berlaku selama sembilan bulan. Pemberitahuan telah diberitakan kepada kelurahan setempat dan setelah semua data diverifikasi.

Sintem pengambilan BLT akan menggunakan jaringan Kantor Pos di seluruh Indonesia, dan pengambilannya tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Program kompensasi ini diberikan agar angka kemiskinan tidak bertambah pasca kenaikan harga BBM. Sebab menurut perkiraan, tanpa bantuan tunai, angka kemiskinan akan meningkat menjadi 1,5 persen.

Sebelumnya, Menteri Sosial Salim Segaf Aljufri memperkirakan bahwa sekitar 17,5 juga rumah tangga miskin bakal menerima bantuan tunai pada tahun ini. Cara ini dinilai lebih efektif meredam gejolak sosial pasca kenaikan harga BBM.

Selain itu pemerintah juga menyiapkan program kompensasi lain. Misalnya memberikan beras untuk rakyat miskin, dari satu tahun menjadi 18 bulan, memperluas cakupan subsidi siswa miskin hingga ke perguruan tinggi, serta memberikan bantuan subsidi untuk angkutan umum dan angkutan desa.


Program bantuan tunai diberikan sejak tujuh tahun lalu. Pada 2005 pemerintah menggelontorkan Rp 4,62 triliun untuk 15,4 juta rumah tangga. Dana diberikan setiap tiga bulan dengan besaran Rp 100 ribu per bulan. Setahun kemudian, jumlah penerima bantuan meningkat menjadi 17,7 juta rumah tangga miskin. Pada 2006 anggaran untuk program ini sebesar Rp 18,6 triliun.
BLT atau Bantuan Langsung Tunai adalah kompensasi yang diberikan pemerintah kepada masyarakat miskin per keluarga, karena kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi. BLT yang akan diberlakukan mulai bulan depan akan dinaikkan nominalnya dari Rp 100 ribu per keluarga menjadi Rp 150 ribu per keluarga.

Program bantuan tunai diberikan oleh pemerintah sejak tujuh tahun lalu. Pada tahun 2005 pemerintah mengucurkan dana Rp 4,62 triliun untuk 15, 4 juta rumah tangga. Dana diberikan setiap tiga bulan dengan besar sebelumnya adalah Rp 100 ribu. Setahun kemudian, jumlah penerima bantuan meningkat menjadi 17,7 juta rumah tangga miskin. Sedangkan pada tahun 2006 anggaran untuk program ini adalah Rp 18,6 triliun.

Setelah terhenti selama setahun, program ini kembali digelar pada 2008. Jumlah dana yang dikucurkan Rp 14,1 triliun untuk 19,1 juta rumah tangga selama tujuh bulan dengan besaran Rp 100 ribu per bulan. Pada 2009, pemerintah menganggarkan Rp 3,81 triliun untuk 18,5 juta rumah tangga selama dua bulan.

Sedangkan untuk tahun 2012 ini, Agung Laksono selaku Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat mengatakn bahwa begitu harga BBM di naikkan, maka BLT tersebut juga langsung berlaku. Jadi otomatis BLT tersebut akan diberlakukan bulan depan tanpa ada selisih waktu. BLT tersebut akan berlaku selama sembilan bulan. Pemberitahuan telah diberitakan kepada kelurahan setempat dan setelah semua data diverifikasi.

Sintem pengambilan BLT akan menggunakan jaringan Kantor Pos di seluruh Indonesia, dan pengambilannya tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Program kompensasi ini diberikan agar angka kemiskinan tidak bertambah pasca kenaikan harga BBM. Sebab menurut perkiraan, tanpa bantuan tunai, angka kemiskinan akan meningkat menjadi 1,5 persen.

Sebelumnya, Menteri Sosial Salim Segaf Aljufri memperkirakan bahwa sekitar 17,5 juga rumah tangga miskin bakal menerima bantuan tunai pada tahun ini. Cara ini dinilai lebih efektif meredam gejolak sosial pasca kenaikan harga BBM.

Selain itu pemerintah juga menyiapkan program kompensasi lain. Misalnya memberikan beras untuk rakyat miskin, dari satu tahun menjadi 18 bulan, memperluas cakupan subsidi siswa miskin hingga ke perguruan tinggi, serta memberikan bantuan subsidi untuk angkutan umum dan angkutan desa.


Program bantuan tunai diberikan sejak tujuh tahun lalu. Pada 2005 pemerintah menggelontorkan Rp 4,62 triliun untuk 15,4 juta rumah tangga. Dana diberikan setiap tiga bulan dengan besaran Rp 100 ribu per bulan. Setahun kemudian, jumlah penerima bantuan meningkat menjadi 17,7 juta rumah tangga miskin. Pada 2006 anggaran untuk program ini sebesar Rp 18,6 triliun.

Post a Comment

 
Top

Powered by themekiller.com