Sekarang ini banyak kita lihat tempat-tempat atau jalan yang ada bangunan minimarktet Alfamart dan Indomaret yang berdekatan, bahkan sering kali bersebelahan persis. Padahal dua bisnis tersebut adalah dua bisnis yang sama yaitu minimarket. Terlihat secara kasat mata bahwa Alfamart dan Indomaret adalah waralaba yang sedang bersaing ketat untuk merebut pasar. Bahkan bisa dibilang kalau dua brand itulah yang sekarang ini sedang merajai minimarket.


Sebenarnya bukan hanya dua itu saja pemain minimarket di Indonesia. Masih ada nama lain misalkan Circle K, Starmart, Yomart, AMPM dan beberapa nama lainnya termasuk pemain lokal. Namun adu kekuatan dan agresifitas dalam menggarap pasar lebih terlihat pada dua brand yaitu Indomaret dan Alfamart. Maklum saja mereka sangat agresif menggarap pasar sampai dengan perumahan, bahkan seperti tidak peduli lagi dengan lokasi kedekatan tempat toko. Dalam radius 10 meter, gampang sekali dijumpai toko Alfamart berhadapan dengan Indomaret. Malahan, di beberapa tempat ada satu gerai Indomaret diapit dua Alfamart. Boleh jadi ini jurus Alfamart untuk menekan Indomaret yang rata-rata gerainya lebih luas dibanding Alfamart.

Singkat ceritanya adalah sebagai berikut. Djoko menjual kepemilikannya di jaringan Alfa Supermarket kepada Carefour. Selanjutnya dana hasil transaksi itu digunakan Djoko untuk fokus mengelola minimarket Alfamart dan Alfamidi. Di luar dugaan, pertumbuhan Alfamart luar biasa. Saat ini sudah mencapai lebih dari 2.779 gerai, seperti hendak mengimbangi pertumbuhan jumlah gerai Indomaret, yang merupakan pesaing utamanya yang juga sedang tumbuh pesat. Sejak dirintis 1988 jaringan Indomaret kini telah mencapai lebih dari 3.134 gerai.

Indomaret pun tak mau kalah set dari Alfamart. Tak puas dengan 3.134 gerainya, tahun berikutnya Indomaret berencana menambah sekitar 900 gerai lagi. Target itu mengalami kenaikan kurang lebih 250 gerai dibanding tahun 2008, yang penambahan gerainya berkisar 650 toko. Laurensius Tirta Widjaja, Direktur Pemasaran PT Indomarco Prismatama (IP), pengelola jaringan minimarket Indomaret menyatakan bahwa mereka akan meneruskan ekspansi pasar ke Aceh. Sehingga total gerai yang mereka punyai akan menjadi 4.000 an toko. Mereka juga akan membuka di Palembang dan Bali. Saat ini gerai Indomaret di Bali mencapai 50 toko dan di Medan 42 toko. Lauren mengklaim pihaknya adalah pionir di kedua wilayah itu.


Lauren menambahkan sekarang banyak gerai Indomaret yang jaraknya sangat dekat dengan pesaing terdekatnya. “Tapi, bukan kami sesumbar lho. Toko kami tidak bisa head to head dengan satu toko. Sebab mind set orang, Indomaret sudah besar, sehingga tidak bisa satu-satu. Akibatnya, kompetitor membuka dua-tiga toko untuk bersaing dengan satu toko kami,“ ungkapnya. “Kalau kami ikut membalas dengan membuka banyak gerai, itu kan namanya kanibalisme dan tidak efisien. Kami harus lebih smart dalam hal itu. Apalagi ini bisnis waralaba. Jadi kami punya perhitungan skala ekonominya,“ Lauren menjelaskan.

Dalam hal penentuan lokasi gerai Indomaret, metodenya relative fleksibel. Di Jakarta misalnya, diplot dulu daerah utara, selatan, barat dan timur. Kemudian dipilah lagi per kecamatan dan kabupaten. Nah, di tiap kecamatan dibuka kesempatan pembukaan dua-tiga toko. Bila dalam perkembangannya kinerja gerai-gerai itu bagus, akan ditambah lagi kesempatan pembukaan gerai lainnya. Kendati begitu, manajemen IP tidak asal buka saja, tapi bernegosiasi dulu dengan pemilik waralaba Indomaret yang lama di daerah itu, akankah layak atau tidak apabila ditambah gerai baru lagi.

Meningkatkan pola kerja sama waralaba adalah strategi lain yang dilancarkan minimarket untuk ekspansi. Dalam hal ini Alfamart bertekad meningkatkan porsi waralabanya dari 23% menjadi 30%, sehingga memberi peluang lebih besar pada investor untuk membesarkan Alfamart hingga ke pelosok. Adapun Indomaret mengaku hendak meningkatkan inovasi produknya. Salah satunya kini dikembangkan dalah meluncurkan kartu multifungsi. Smart card ini tidak hanya berfungsi untuk belanja, tapi juga untuk membayar tagihan telepon, listrik, cicilan motor dan mobil. Sekadar mengingatkan, saat ini jaringan Indomaret yang menggunakan system waralaba berjumlah 1.300 gerai. Dengan nilai investasi Rp. 250-300 Juta pergerai, Lauren menilai, bisnis waralaba ini tidak main-main. Investor dan manajemen IP sendiri mengaku serius mengelolanya, sehingga tingkat kegagalan sebagaimana diklaim Lauren 5%.


Perkembangan yang menarik juga bisa dilihat dari sisi merek produk yang dijajakan. Rupanya tak hanya hypermarket yang jeli membuat private label. Pengelola Jaringan minimarket pun mengembangkan private label untuk menambah portofolio produknya dengan harga miring dibanding produk serupa dari merek-merek terkenal. “kami juga punya produk dengan merek sendiri, tapi angkanya masih terbilang kecil. Yaitu sekitar 4 % dari total stock keeping unit yang jumlahya mencapai 5 ribu item,“ ujar Heryanto.

Di luar bisnis utamanya, kalangan minimarket juga cukup kreatif mengoptimalkan sumber pendapatan lainnya. Alfamart yang omset tiap gerainya diklaim Henryanto rata-rata mencapai Rp 8,5 juta/hari mendapat gross margin kurang-lebih 12%. Ada revenue tambahan Alfamart dari penyewaan gondola, lapak di teras depan toko, dan listing fee. Sayangnya, petinggi perusahaan ritel yang Januari 2009 lalu go public itu enggan membeberkan berapa nilai nominal income tambahannya.

Strategi serupa pun ditempuh Indomaret dengan menyewakan gondola atau lapaknya ke mitra bisnis. “Untuk listing fee, masih kami patok di bawah Rp.10 juta per item produk. “ ujar Lauren seraya mengklaim rata-rata omset gerai Indomaret (yang biasanya dikelola 8-10 karyawan) per hari mencapai Rp.9-10 juta.

Ke depan, kalangan pelaku bisnis minimarket tampaknya bertekad melipatgandakan bisnisnya, Indomaret misalnya ingin menjadi one stop shopping & service. “Nanti kami juga akan mengembangkan konsep pengiriman uang person to person dengan memanfaatkan jaringan toko Indomaret,“ kata Lauren menyebut salah satu contoh program masa depan.

Sebagaimana diungkapkan Djoko Susanto, bisnis minimarket itu adalah bisnis marathon. Tidak bisa sebuah perusahaan pengelola jaringan minimarket merasa cukup dengan 100-200 toko, lalu menganggapnya sudah untung.” Modal akan terus digulirkan untuk ekspansi,” kata founder Alfamart itu.

Indomaret dan alfamart itu memang perang pasar secara terbuka. Perang tersebut didasari oleh Putra Sampoerna yang mau membeli Indomaret tapi tidak di gubris oleh pihak Indomaret. Akhirnya adalah Putra Sampoerna akhirnya mendirikan alfamart, dimana tujuannya adalah untuk menghancurkan Indomaret. Akan tetapi gara-gara hal tersebut, Sampoerna mengalami kerugian banyak, yang pada akhirnya saham Sampoerna dibeli oleh Philip Morris International (PMI) dan akhirnya pula Alfamart di jual ke Carefour. Maka sampai sekarang dimana indomaret buka, disitu akan ada alfamart, sebagai bentuk persaingan tersebut.
Sekarang ini banyak kita lihat tempat-tempat atau jalan yang ada bangunan minimarktet Alfamart dan Indomaret yang berdekatan, bahkan sering kali bersebelahan persis. Padahal dua bisnis tersebut adalah dua bisnis yang sama yaitu minimarket. Terlihat secara kasat mata bahwa Alfamart dan Indomaret adalah waralaba yang sedang bersaing ketat untuk merebut pasar. Bahkan bisa dibilang kalau dua brand itulah yang sekarang ini sedang merajai minimarket.


Sebenarnya bukan hanya dua itu saja pemain minimarket di Indonesia. Masih ada nama lain misalkan Circle K, Starmart, Yomart, AMPM dan beberapa nama lainnya termasuk pemain lokal. Namun adu kekuatan dan agresifitas dalam menggarap pasar lebih terlihat pada dua brand yaitu Indomaret dan Alfamart. Maklum saja mereka sangat agresif menggarap pasar sampai dengan perumahan, bahkan seperti tidak peduli lagi dengan lokasi kedekatan tempat toko. Dalam radius 10 meter, gampang sekali dijumpai toko Alfamart berhadapan dengan Indomaret. Malahan, di beberapa tempat ada satu gerai Indomaret diapit dua Alfamart. Boleh jadi ini jurus Alfamart untuk menekan Indomaret yang rata-rata gerainya lebih luas dibanding Alfamart.

Singkat ceritanya adalah sebagai berikut. Djoko menjual kepemilikannya di jaringan Alfa Supermarket kepada Carefour. Selanjutnya dana hasil transaksi itu digunakan Djoko untuk fokus mengelola minimarket Alfamart dan Alfamidi. Di luar dugaan, pertumbuhan Alfamart luar biasa. Saat ini sudah mencapai lebih dari 2.779 gerai, seperti hendak mengimbangi pertumbuhan jumlah gerai Indomaret, yang merupakan pesaing utamanya yang juga sedang tumbuh pesat. Sejak dirintis 1988 jaringan Indomaret kini telah mencapai lebih dari 3.134 gerai.

Indomaret pun tak mau kalah set dari Alfamart. Tak puas dengan 3.134 gerainya, tahun berikutnya Indomaret berencana menambah sekitar 900 gerai lagi. Target itu mengalami kenaikan kurang lebih 250 gerai dibanding tahun 2008, yang penambahan gerainya berkisar 650 toko. Laurensius Tirta Widjaja, Direktur Pemasaran PT Indomarco Prismatama (IP), pengelola jaringan minimarket Indomaret menyatakan bahwa mereka akan meneruskan ekspansi pasar ke Aceh. Sehingga total gerai yang mereka punyai akan menjadi 4.000 an toko. Mereka juga akan membuka di Palembang dan Bali. Saat ini gerai Indomaret di Bali mencapai 50 toko dan di Medan 42 toko. Lauren mengklaim pihaknya adalah pionir di kedua wilayah itu.


Lauren menambahkan sekarang banyak gerai Indomaret yang jaraknya sangat dekat dengan pesaing terdekatnya. “Tapi, bukan kami sesumbar lho. Toko kami tidak bisa head to head dengan satu toko. Sebab mind set orang, Indomaret sudah besar, sehingga tidak bisa satu-satu. Akibatnya, kompetitor membuka dua-tiga toko untuk bersaing dengan satu toko kami,“ ungkapnya. “Kalau kami ikut membalas dengan membuka banyak gerai, itu kan namanya kanibalisme dan tidak efisien. Kami harus lebih smart dalam hal itu. Apalagi ini bisnis waralaba. Jadi kami punya perhitungan skala ekonominya,“ Lauren menjelaskan.

Dalam hal penentuan lokasi gerai Indomaret, metodenya relative fleksibel. Di Jakarta misalnya, diplot dulu daerah utara, selatan, barat dan timur. Kemudian dipilah lagi per kecamatan dan kabupaten. Nah, di tiap kecamatan dibuka kesempatan pembukaan dua-tiga toko. Bila dalam perkembangannya kinerja gerai-gerai itu bagus, akan ditambah lagi kesempatan pembukaan gerai lainnya. Kendati begitu, manajemen IP tidak asal buka saja, tapi bernegosiasi dulu dengan pemilik waralaba Indomaret yang lama di daerah itu, akankah layak atau tidak apabila ditambah gerai baru lagi.

Meningkatkan pola kerja sama waralaba adalah strategi lain yang dilancarkan minimarket untuk ekspansi. Dalam hal ini Alfamart bertekad meningkatkan porsi waralabanya dari 23% menjadi 30%, sehingga memberi peluang lebih besar pada investor untuk membesarkan Alfamart hingga ke pelosok. Adapun Indomaret mengaku hendak meningkatkan inovasi produknya. Salah satunya kini dikembangkan dalah meluncurkan kartu multifungsi. Smart card ini tidak hanya berfungsi untuk belanja, tapi juga untuk membayar tagihan telepon, listrik, cicilan motor dan mobil. Sekadar mengingatkan, saat ini jaringan Indomaret yang menggunakan system waralaba berjumlah 1.300 gerai. Dengan nilai investasi Rp. 250-300 Juta pergerai, Lauren menilai, bisnis waralaba ini tidak main-main. Investor dan manajemen IP sendiri mengaku serius mengelolanya, sehingga tingkat kegagalan sebagaimana diklaim Lauren 5%.


Perkembangan yang menarik juga bisa dilihat dari sisi merek produk yang dijajakan. Rupanya tak hanya hypermarket yang jeli membuat private label. Pengelola Jaringan minimarket pun mengembangkan private label untuk menambah portofolio produknya dengan harga miring dibanding produk serupa dari merek-merek terkenal. “kami juga punya produk dengan merek sendiri, tapi angkanya masih terbilang kecil. Yaitu sekitar 4 % dari total stock keeping unit yang jumlahya mencapai 5 ribu item,“ ujar Heryanto.

Di luar bisnis utamanya, kalangan minimarket juga cukup kreatif mengoptimalkan sumber pendapatan lainnya. Alfamart yang omset tiap gerainya diklaim Henryanto rata-rata mencapai Rp 8,5 juta/hari mendapat gross margin kurang-lebih 12%. Ada revenue tambahan Alfamart dari penyewaan gondola, lapak di teras depan toko, dan listing fee. Sayangnya, petinggi perusahaan ritel yang Januari 2009 lalu go public itu enggan membeberkan berapa nilai nominal income tambahannya.

Strategi serupa pun ditempuh Indomaret dengan menyewakan gondola atau lapaknya ke mitra bisnis. “Untuk listing fee, masih kami patok di bawah Rp.10 juta per item produk. “ ujar Lauren seraya mengklaim rata-rata omset gerai Indomaret (yang biasanya dikelola 8-10 karyawan) per hari mencapai Rp.9-10 juta.

Ke depan, kalangan pelaku bisnis minimarket tampaknya bertekad melipatgandakan bisnisnya, Indomaret misalnya ingin menjadi one stop shopping & service. “Nanti kami juga akan mengembangkan konsep pengiriman uang person to person dengan memanfaatkan jaringan toko Indomaret,“ kata Lauren menyebut salah satu contoh program masa depan.

Sebagaimana diungkapkan Djoko Susanto, bisnis minimarket itu adalah bisnis marathon. Tidak bisa sebuah perusahaan pengelola jaringan minimarket merasa cukup dengan 100-200 toko, lalu menganggapnya sudah untung.” Modal akan terus digulirkan untuk ekspansi,” kata founder Alfamart itu.

Indomaret dan alfamart itu memang perang pasar secara terbuka. Perang tersebut didasari oleh Putra Sampoerna yang mau membeli Indomaret tapi tidak di gubris oleh pihak Indomaret. Akhirnya adalah Putra Sampoerna akhirnya mendirikan alfamart, dimana tujuannya adalah untuk menghancurkan Indomaret. Akan tetapi gara-gara hal tersebut, Sampoerna mengalami kerugian banyak, yang pada akhirnya saham Sampoerna dibeli oleh Philip Morris International (PMI) dan akhirnya pula Alfamart di jual ke Carefour. Maka sampai sekarang dimana indomaret buka, disitu akan ada alfamart, sebagai bentuk persaingan tersebut.
 
Top

Powered by themekiller.com