Ratusan orang pada Jumat berkumpul di Yangon menyerukan diakhirinya konflik antara pasukan pemberontak minoritas etnis Kachin dan tentara Myanmar. Dalam aksi warna-warni untuk memperingati Hari Perdamian Internasional, sedikitnya 200 orang, termasuk dari etnis Kachin, para seniman dan beberapa kelompok masyarakat sipil, bertemu di pusat kota Yangon. Banyak dari mereka mengenakan kaus biru bertuliskan slogan "Hentikan Perang Sipil" atau membawa spanduk serta merpati dari plastik.

Mereka mulai berbaris melalui beberapa daerah di kota itu untuk menarik perhatian pada konflik Kachin yang melanda Myanmar sejak Juni tahun lalu, ketika gencatan senjata yang berlangsung selama 17 tahun antara pasukan pemerintah dan pemberontak mulai runtuh.

Pemerintah reformis negara itu telah setuju untuk melakukan genjatan senjata dengan beberapa kelompok etnis lainnya sebagai bagian dari reformasi sejak berkuasa tahun lalu, namun pertempuran berlanjut di negara bagian Kachin, di wilayah paling utara negara tersebut.

"Kita perlu aturan hukum untuk mendapatkan perdamaian. Ketika kita mendapatkan kedamaian, kita dapat membangun, jadi kami meminta dulu aturan hukum, kemudian membangun perdamaian," ujar Nay Myo Zin, pemimpin kelompok sipil Myanmar Social Development Network.

Sebuah perjalanan menggunakan bus yang direncanakan para aktivis Kachin dari Yangon ke Naypyidaw sebelumnya telah diblokir pihak kepolisian, memaksa para pengunjuk rasa untuk bergabung dengan aksi Yangon sebagai gantinya.
Ratusan orang pada Jumat berkumpul di Yangon menyerukan diakhirinya konflik antara pasukan pemberontak minoritas etnis Kachin dan tentara Myanmar. Dalam aksi warna-warni untuk memperingati Hari Perdamian Internasional, sedikitnya 200 orang, termasuk dari etnis Kachin, para seniman dan beberapa kelompok masyarakat sipil, bertemu di pusat kota Yangon. Banyak dari mereka mengenakan kaus biru bertuliskan slogan "Hentikan Perang Sipil" atau membawa spanduk serta merpati dari plastik.

Mereka mulai berbaris melalui beberapa daerah di kota itu untuk menarik perhatian pada konflik Kachin yang melanda Myanmar sejak Juni tahun lalu, ketika gencatan senjata yang berlangsung selama 17 tahun antara pasukan pemerintah dan pemberontak mulai runtuh.

Pemerintah reformis negara itu telah setuju untuk melakukan genjatan senjata dengan beberapa kelompok etnis lainnya sebagai bagian dari reformasi sejak berkuasa tahun lalu, namun pertempuran berlanjut di negara bagian Kachin, di wilayah paling utara negara tersebut.

"Kita perlu aturan hukum untuk mendapatkan perdamaian. Ketika kita mendapatkan kedamaian, kita dapat membangun, jadi kami meminta dulu aturan hukum, kemudian membangun perdamaian," ujar Nay Myo Zin, pemimpin kelompok sipil Myanmar Social Development Network.

Sebuah perjalanan menggunakan bus yang direncanakan para aktivis Kachin dari Yangon ke Naypyidaw sebelumnya telah diblokir pihak kepolisian, memaksa para pengunjuk rasa untuk bergabung dengan aksi Yangon sebagai gantinya.

Post a Comment

 
Top

Powered by themekiller.com