PT Freeport Indonesia memperkirakan bahwa biaya investasi eksplorasi tambang emas di Papua adalah sebesar US$ 80 juta hingga 2041. Angka ini meningkat tajam dari perkiraan investasi yang dibutuhkan sampai dengan 2021, yang sebelumnya diperkirakan hanya US$ 9-10 juta. Pernyataan itu disampaikan oleh Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Rozik Soetjipto, saat ditemui pekan lalu di Jakarta, Jumat malam (14/9/2012).

"Untuk mengeksplorasi tambang itu butuh investasi yang lebih besar dan bisa mencapai US$ 80 juta. Oleh karena itu harus ada kepastian dari investor," kata Rozik. Rozik mengatakan, semakin besarnya biaya investasi pertambangan tersebut mengingat kegiatan pertambangan sudah memasuki fase bawah tanah. Saat ini 60% produksi biji (ore) berasal dari tambang permukaan, bahkan diperkirakan akan habis pada 2017-2018. "Kenapa minta lagi sampai 2041, karena resourcesnya yang luar biasa dan kita tidak main-main karena butuh teknologi yang luar biasa dan mahal," kata Rozik.

Menurut Rozik untuk menemukan cadangan sebesar itu tidaklah mudah, sebab dibutuhkan waktu kurang lebih selama 21 tahun. "Tahun 1988 kita hampir tutup pada waktu itu, tapi kita bersukur ada penemuan cadangan emas itu," ujar Rozik.

Sementara itu terkait renegoisasi royalti dengan pemerintah dirinya menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah. "Renegoisasi sudah hampir selesai, sedikit lagilah. Semua berjalan dengan baik, tinggal hasilnya bagaimana. Tapi saya yakin, hasilnya lebih baik untuk pemerintah dan masyarakat," ujar Rozik.

Pemerintah setidaknya meminta royalti sebesar 10% dari Freeport. Saat ini besaran royalti yang diberikan oleh Freeport masih dengan kontrak karya tahun 1991 yaitu sebesar 1,5% untuk tembaga, emas dan perak sebesar 1%.
PT Freeport Indonesia memperkirakan bahwa biaya investasi eksplorasi tambang emas di Papua adalah sebesar US$ 80 juta hingga 2041. Angka ini meningkat tajam dari perkiraan investasi yang dibutuhkan sampai dengan 2021, yang sebelumnya diperkirakan hanya US$ 9-10 juta. Pernyataan itu disampaikan oleh Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Rozik Soetjipto, saat ditemui pekan lalu di Jakarta, Jumat malam (14/9/2012).

"Untuk mengeksplorasi tambang itu butuh investasi yang lebih besar dan bisa mencapai US$ 80 juta. Oleh karena itu harus ada kepastian dari investor," kata Rozik. Rozik mengatakan, semakin besarnya biaya investasi pertambangan tersebut mengingat kegiatan pertambangan sudah memasuki fase bawah tanah. Saat ini 60% produksi biji (ore) berasal dari tambang permukaan, bahkan diperkirakan akan habis pada 2017-2018. "Kenapa minta lagi sampai 2041, karena resourcesnya yang luar biasa dan kita tidak main-main karena butuh teknologi yang luar biasa dan mahal," kata Rozik.

Menurut Rozik untuk menemukan cadangan sebesar itu tidaklah mudah, sebab dibutuhkan waktu kurang lebih selama 21 tahun. "Tahun 1988 kita hampir tutup pada waktu itu, tapi kita bersukur ada penemuan cadangan emas itu," ujar Rozik.

Sementara itu terkait renegoisasi royalti dengan pemerintah dirinya menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah. "Renegoisasi sudah hampir selesai, sedikit lagilah. Semua berjalan dengan baik, tinggal hasilnya bagaimana. Tapi saya yakin, hasilnya lebih baik untuk pemerintah dan masyarakat," ujar Rozik.

Pemerintah setidaknya meminta royalti sebesar 10% dari Freeport. Saat ini besaran royalti yang diberikan oleh Freeport masih dengan kontrak karya tahun 1991 yaitu sebesar 1,5% untuk tembaga, emas dan perak sebesar 1%.

Post a Comment

 
Top

Powered by themekiller.com