Jogja International Performing Arts (JIPA) Festival 2012 ingin menyaingi penyelenggaraan festival-festival seni tingkat internasional yang ada di Surakarta. Berkat ajang kelas internasional tersebut, Surakarta lebih dikenal sebagai kawasan budaya yang bertetangga dengan Yogyakarta.

"Yogyakarta kurang muncul di permukaan, tapi Surakarta sering sekali. Surakarta selalu menjadi news maker. JIPA harus bisa bersaing," kata Direktur Asia Tri Festival, Kanjeng Raden Tumenggung Thomas Haryonagoro, dalam persiapan gelaran acara JIPA Festival 2012 dan Tri Asia Festival 2012 di Momento Cafe di Sleman, Kamis, 27 September 2012.

Terobosan tersebut dimulai dengan menampilkan Solo International Performing Arts (SIPA) 2012 yang akan diadakan pada 28-30 September mendatang. Sedangkan pada Asia Tri Festival, Thomas akan melibatkan seniman-seniman dari Jepang, Korea, Singapura, Amerika Serikat, Meksiko, India, Cina, Belanda, dan Spanyol. Adapun seniman asal Indonesia berasal dari Jakarta, Palu, Bang Belitung, Surakarta, dan Yogyakarta.

Sebelumnya Asia Tri Festival yang merupakan bagian dari JIPA Festival diinisiasi oleh seniman dari Korea, Jepang, dan Yogyakarta pada 2005. Asia Tri Festival akan diadakan di Museum Ullen Sentanu di Jalan Kaliurang Sleman yang mengangkat seni dan budaya Jawa pada 2-4 Oktober.

"Kami akan buat performing arts soal benda-benda dalam museum karena itu peradaban," kata Thomas. Upaya tersebut biasa dilakukan Museum Nasional Singapura. Sedangkan JIPA diadakan pada 29 September-1 Oktober di gedung Societed Taman Budaya Yogyakarta dan Concert Hall Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Ada 10 grup tari, teater, dan musik dari berbagai negara yang dilibatkan, antara lain Taketeru Kudo (Jepang), Danang Pamungkas (Indonesia), Jun Amanto (Jepang), Jocellyne Montpetit (Canada), Maya Dance Company (Singapore), Komang Praptika (Indonesia), Suji Dance Company (Indonesia), dan Agnes Christine (Singapura).

Menurut Direktur Festival JIPA Bambang Paningron, awalnya cukup banyak grup seni yang mendaftar. Namun, melalui proses kuratorial, akhirnya hanya 10 grup yang lolos tampil. Grup yang tidak lolos, menurut Bambang, bukan berarti buruk, melainkan karena situasi dan kondisinya yang tidak tepat. "Misalnya, ada grup yang menampilkan tarian semitelanjang. Karena di sini orang akan melihat ketelanjangannya, bukan seninya," kata Bambang.

JIPA Festival 2012 kali ini mengusung tema "Follow Your Heart". Bambang berharap tema itu mengajak seniman yang ikut serta menampilkan karyanya dengan jujur. Seperti penampilan Suji Dance Company dari Bangka Belitung yang melalui performing arts menjelaskan kondisi Bangka yang rusak parah akibat penambangan timah.
Jogja International Performing Arts (JIPA) Festival 2012 ingin menyaingi penyelenggaraan festival-festival seni tingkat internasional yang ada di Surakarta. Berkat ajang kelas internasional tersebut, Surakarta lebih dikenal sebagai kawasan budaya yang bertetangga dengan Yogyakarta.

"Yogyakarta kurang muncul di permukaan, tapi Surakarta sering sekali. Surakarta selalu menjadi news maker. JIPA harus bisa bersaing," kata Direktur Asia Tri Festival, Kanjeng Raden Tumenggung Thomas Haryonagoro, dalam persiapan gelaran acara JIPA Festival 2012 dan Tri Asia Festival 2012 di Momento Cafe di Sleman, Kamis, 27 September 2012.

Terobosan tersebut dimulai dengan menampilkan Solo International Performing Arts (SIPA) 2012 yang akan diadakan pada 28-30 September mendatang. Sedangkan pada Asia Tri Festival, Thomas akan melibatkan seniman-seniman dari Jepang, Korea, Singapura, Amerika Serikat, Meksiko, India, Cina, Belanda, dan Spanyol. Adapun seniman asal Indonesia berasal dari Jakarta, Palu, Bang Belitung, Surakarta, dan Yogyakarta.

Sebelumnya Asia Tri Festival yang merupakan bagian dari JIPA Festival diinisiasi oleh seniman dari Korea, Jepang, dan Yogyakarta pada 2005. Asia Tri Festival akan diadakan di Museum Ullen Sentanu di Jalan Kaliurang Sleman yang mengangkat seni dan budaya Jawa pada 2-4 Oktober.

"Kami akan buat performing arts soal benda-benda dalam museum karena itu peradaban," kata Thomas. Upaya tersebut biasa dilakukan Museum Nasional Singapura. Sedangkan JIPA diadakan pada 29 September-1 Oktober di gedung Societed Taman Budaya Yogyakarta dan Concert Hall Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Ada 10 grup tari, teater, dan musik dari berbagai negara yang dilibatkan, antara lain Taketeru Kudo (Jepang), Danang Pamungkas (Indonesia), Jun Amanto (Jepang), Jocellyne Montpetit (Canada), Maya Dance Company (Singapore), Komang Praptika (Indonesia), Suji Dance Company (Indonesia), dan Agnes Christine (Singapura).

Menurut Direktur Festival JIPA Bambang Paningron, awalnya cukup banyak grup seni yang mendaftar. Namun, melalui proses kuratorial, akhirnya hanya 10 grup yang lolos tampil. Grup yang tidak lolos, menurut Bambang, bukan berarti buruk, melainkan karena situasi dan kondisinya yang tidak tepat. "Misalnya, ada grup yang menampilkan tarian semitelanjang. Karena di sini orang akan melihat ketelanjangannya, bukan seninya," kata Bambang.

JIPA Festival 2012 kali ini mengusung tema "Follow Your Heart". Bambang berharap tema itu mengajak seniman yang ikut serta menampilkan karyanya dengan jujur. Seperti penampilan Suji Dance Company dari Bangka Belitung yang melalui performing arts menjelaskan kondisi Bangka yang rusak parah akibat penambangan timah.

Post a Comment

 
Top

Powered by themekiller.com