Tentara terakhir AS yang berjumlah 33.000 orang yang dikirim Presiden Barack Obama ke Afghanistan hampir tiga tahun lalu sebagai bagian dari gelombang militer telah meninggalkan negara tersebut, ujar para pejabat pertahanan AS pada Kamis.

Penarikan gelombang tentara, dimulai pada Juli, setelah insiden yang belum pernah terjadi sebelumnya yang mana sejumlah tentara barat ditembak mati oleh rekannya di Afghanistan, yang sejauh ini berjumlah 51 tentara, dan sebagai protes anti-negara-negara barat yang menyapu negara-negara Muslim.

Masih terdapat 68.000 tentara AS di Afghanistan, serta 40.000 tentara dari koalisi ISAF NATO. Upaya yang dipimpin oleh AS untuk menahan pemberontakan Taliban meliputi sebuah fase penarikan tentara negara-negara barat, dan melatih tentara Afghanistan untuk mengambil alih negara mereka. Rancana ini untuk Afghanistan, agar dapat mengambil alih keamanan negara mereka hingga akhir 2014.

Sementara peningkatan pasukan yang membantu pasukan yang dipimpin oleh negara-negara barat kembali di selatan dan barat daya Afghanistan melawan Taliban, yang saat ini melancarkan serangan di timur wilayah perbatasan Pakistan. Beberapa keputusan mempercepat penarikan tentara hingga 2014 masih tertunda.

Pada Selasa, NATO mengumumkan bahwa pihaknya akan membatasi operasi gabungan dengan tentara Afghanistan, menandai sebuah kemunduran strategi yang dipimpin AS untuk menahan pemberontakan Taliban selama 11 tahun.

Brigadir Jenderal Roger Noble dari Australia, wakil kepala operasi ISAF, mengatakan serangkaian serangan di dalam sangat menyedihkan. Noble mengatakan keputusan untuk mengurangi operasi gabungan "merupakan urusan militer yang normal dan umum terjadi," dan menekankan bahwa hal tersebut tidak akan keluar dari upaya penarikan tentara. "Tindakan tersebut tetap pada jalurnya untuk mencapai tujuannya," ujar Noble kepada para reporter Pentagon dari Kabul.
Tentara terakhir AS yang berjumlah 33.000 orang yang dikirim Presiden Barack Obama ke Afghanistan hampir tiga tahun lalu sebagai bagian dari gelombang militer telah meninggalkan negara tersebut, ujar para pejabat pertahanan AS pada Kamis.

Penarikan gelombang tentara, dimulai pada Juli, setelah insiden yang belum pernah terjadi sebelumnya yang mana sejumlah tentara barat ditembak mati oleh rekannya di Afghanistan, yang sejauh ini berjumlah 51 tentara, dan sebagai protes anti-negara-negara barat yang menyapu negara-negara Muslim.

Masih terdapat 68.000 tentara AS di Afghanistan, serta 40.000 tentara dari koalisi ISAF NATO. Upaya yang dipimpin oleh AS untuk menahan pemberontakan Taliban meliputi sebuah fase penarikan tentara negara-negara barat, dan melatih tentara Afghanistan untuk mengambil alih negara mereka. Rancana ini untuk Afghanistan, agar dapat mengambil alih keamanan negara mereka hingga akhir 2014.

Sementara peningkatan pasukan yang membantu pasukan yang dipimpin oleh negara-negara barat kembali di selatan dan barat daya Afghanistan melawan Taliban, yang saat ini melancarkan serangan di timur wilayah perbatasan Pakistan. Beberapa keputusan mempercepat penarikan tentara hingga 2014 masih tertunda.

Pada Selasa, NATO mengumumkan bahwa pihaknya akan membatasi operasi gabungan dengan tentara Afghanistan, menandai sebuah kemunduran strategi yang dipimpin AS untuk menahan pemberontakan Taliban selama 11 tahun.

Brigadir Jenderal Roger Noble dari Australia, wakil kepala operasi ISAF, mengatakan serangkaian serangan di dalam sangat menyedihkan. Noble mengatakan keputusan untuk mengurangi operasi gabungan "merupakan urusan militer yang normal dan umum terjadi," dan menekankan bahwa hal tersebut tidak akan keluar dari upaya penarikan tentara. "Tindakan tersebut tetap pada jalurnya untuk mencapai tujuannya," ujar Noble kepada para reporter Pentagon dari Kabul.

Post a Comment

 
Top

Powered by themekiller.com