Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN), Chairul Tanjung, mengatakan, pada 2003-2010 rata-rata produk domestik bruto (PDB) Jabar sekitar 15 persen. Angka tersebut menunjukkan perekonomian Jabar lebih besar daripada Libya, Ekuador, dan Kroasia.

"Perekonomian Jabar sudah beda-beda tipis dengan Vietnam. Ini luar biasa," kata Chairul dalam acara halal bihalal PHRI Jabar di Trans Luxury Hotel, Kamis (20/9/2012) malam. Menurut dia, sektor perhotelan dan restoran merupakan penyumbang yang besar terhadap PDB Jabar. Angkanya mencapai 22 persen. Selain itu, hotel dan resto merupakan sektor dengan penyerapan tenaga kerja paling besar di Jabar.

Berdasarkan data statistik BPS, kata Chairul, sektor perhotelan dan restoran tumbuh paling tinggi di Jabar, yakni 11,5 persen. Pada triwulan kedua 2012, pertumbuhan ekonomi Jabar mencapai 6,41 persen dari periode yang sama tahun lalu, dan 2,4 persen dari pertumbuhan ekonomi Jabar pada triwulan kedua 2012 itu disumbang oleh sektor hotel dan resto.

Dalam kesempatan halal bihalal itu, Chairul menyinggung perekonomian Asia yang tumbuh positif 10 tahun terakhir. Menurut dia, Asia akan kembali menguasai ekonomi dunia pada 2050 atau lebih cepat.

"Sepuluh tahun terakhir ekonomi Asia menunjukkan kinerja sangat baik. Mulai tahun 2000-an sampai saat ini ekonomi dunia akan dikusai Asia. Bahkan pada 2050, lebih dari 50 persen ekonomi dunia dikuasai Asia. Tapi bisa saja lebih cepat, misal pada 2040 atau lebih cepat lagi," ujarnya.

Bos CT Corp itu juga mengulas penghasilan masyarakat Indonesia. Menurut dia, berdasarkan survei 2010, jumlah orang dengan penghasilan lebih dari 3.600 dolar AS per tahun per orang di Indonesia sudah mencapai 45 juta orang. Diperkirakan pada 2020 nanti, jumlah orang dengan penghasilan lebih dari 3.600 dolar AS per tahun per orang di Indonesia mencapai 85 juta orang. "Bisa jadi pada 2030 jumlahnya mencapai 135 juta-170 juta orang. Ini luar biasa," ujarnya.

Dengan kondisi seperti itu, kata dia, sektor yang akan terpengaruh besar adalah keuangan, hotel dan resto, serta hiburan. Sebab, menurut Chairul, orang dengan penghasilan di atas 3.600 dolar AS per tahun per orang tidak akan lagi memikirkan kebutuhan primer, melainkan sekunder.

"Kaitannya pendapatan orang dengan hotel dan resto adalah makin tinggi pendapatan orang maka akan makin tinggi pula pendapatan hotel dan resto. Hotel dan resto adalah bisnis yang bergerak untuk kelompok menengah, dan penduduk kita yang bekerja lebih banyak daripada yang tidak berpenghasilan. Artinya, akan ada banyak dana yang ditabung," katanya.
Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN), Chairul Tanjung, mengatakan, pada 2003-2010 rata-rata produk domestik bruto (PDB) Jabar sekitar 15 persen. Angka tersebut menunjukkan perekonomian Jabar lebih besar daripada Libya, Ekuador, dan Kroasia.

"Perekonomian Jabar sudah beda-beda tipis dengan Vietnam. Ini luar biasa," kata Chairul dalam acara halal bihalal PHRI Jabar di Trans Luxury Hotel, Kamis (20/9/2012) malam. Menurut dia, sektor perhotelan dan restoran merupakan penyumbang yang besar terhadap PDB Jabar. Angkanya mencapai 22 persen. Selain itu, hotel dan resto merupakan sektor dengan penyerapan tenaga kerja paling besar di Jabar.

Berdasarkan data statistik BPS, kata Chairul, sektor perhotelan dan restoran tumbuh paling tinggi di Jabar, yakni 11,5 persen. Pada triwulan kedua 2012, pertumbuhan ekonomi Jabar mencapai 6,41 persen dari periode yang sama tahun lalu, dan 2,4 persen dari pertumbuhan ekonomi Jabar pada triwulan kedua 2012 itu disumbang oleh sektor hotel dan resto.

Dalam kesempatan halal bihalal itu, Chairul menyinggung perekonomian Asia yang tumbuh positif 10 tahun terakhir. Menurut dia, Asia akan kembali menguasai ekonomi dunia pada 2050 atau lebih cepat.

"Sepuluh tahun terakhir ekonomi Asia menunjukkan kinerja sangat baik. Mulai tahun 2000-an sampai saat ini ekonomi dunia akan dikusai Asia. Bahkan pada 2050, lebih dari 50 persen ekonomi dunia dikuasai Asia. Tapi bisa saja lebih cepat, misal pada 2040 atau lebih cepat lagi," ujarnya.

Bos CT Corp itu juga mengulas penghasilan masyarakat Indonesia. Menurut dia, berdasarkan survei 2010, jumlah orang dengan penghasilan lebih dari 3.600 dolar AS per tahun per orang di Indonesia sudah mencapai 45 juta orang. Diperkirakan pada 2020 nanti, jumlah orang dengan penghasilan lebih dari 3.600 dolar AS per tahun per orang di Indonesia mencapai 85 juta orang. "Bisa jadi pada 2030 jumlahnya mencapai 135 juta-170 juta orang. Ini luar biasa," ujarnya.

Dengan kondisi seperti itu, kata dia, sektor yang akan terpengaruh besar adalah keuangan, hotel dan resto, serta hiburan. Sebab, menurut Chairul, orang dengan penghasilan di atas 3.600 dolar AS per tahun per orang tidak akan lagi memikirkan kebutuhan primer, melainkan sekunder.

"Kaitannya pendapatan orang dengan hotel dan resto adalah makin tinggi pendapatan orang maka akan makin tinggi pula pendapatan hotel dan resto. Hotel dan resto adalah bisnis yang bergerak untuk kelompok menengah, dan penduduk kita yang bekerja lebih banyak daripada yang tidak berpenghasilan. Artinya, akan ada banyak dana yang ditabung," katanya.

Post a Comment

 
Top

Powered by themekiller.com