Jika Anda ingin merasakan sensasi tinggal di rumah dengan model era kejayaan Kerajaan Majapahit, tidak ada salahnya datang ke Desa Bejijong, Sentonorejo dan Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Disana sekarang ini sudah berdiri ratusan rumah yang dibangun dengan arsitektur semirip mungkin dengan rumah-rumah di era Majapahit. Mengapa harus di Trowulan? Berdasarkan berbagai temuan arkeologi, kecamatan ini diyakini menjadi ibukota Kerajaan Majapahit ketika diperintah raja Tribhuwana Wijayatungga Dewi (tahun 1328-1372).


Adanya rumah Majapahit tersebut adalah program pemerintah, karena Trowulan menjadi cagar budaya nasional. Program tersebut dilakukan oleh pemprov dan pemkab untuk melestarikan cagar budaya dari Kerajaan majapahit. Maka dibuatlah replika-replika rumah Majapahit tersebut.

Sebagai destinasi wisata budaya, rumah Majapahit ini mulai dibangun sejak tahun 2015. Diawal pembangunannya, ada 299 rumah ala Majapahit yang di bangun di tiga desa, yaitu di Bejijong, Sentonorejo dan Jatipasar. Semua ketiga desa tersebut masuk ke dalam Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Setelah itu tahun 2016 ini, ada tambahan 300 unit rumah yang dibangun dan jangkauannya di tujuh desa, di antaranya Desa Trowulan dan Desa Watesumpak. Bahkan rencananya kedepan, akan ada 16 desa lagi yang dibangun rumah Majapahit, terutama desa-desa yang mempunyai banyak peninggalan pada jaman itu.


Karena replika, bangunan-bangunan tersebut dibuat semirip mungkin sesuai dengan deskripsi yang disampaikan oleh Mpu Prapanca. Rumah Majapahit dibangun dengan ciri khas pondasi tinggi dan penggunaan batu bata merah. Penggunaan batu bata merah adalah ciri bahan yang digunakan sebagaimana pada candi-candi peninggalan Majapahit. Selain itu penggunaan jendela jenis kupu tarung dan hiasan di atap rumah adalah ciri khas yang lain. Replika rumah benar-benar mendekati asli, karena dindingnya tanpa cat.


Luas bangunan rumah Majapahit mengikuti luasan tanah milik warga desa. Ada rumah dengan luas 4x5 m2, ada juga yang 3x4 m2. Rumah Majapahit itu bisa menampung 2-4 wisatawan. Yang pasti, sekarang ini bangunan-bangunan tersebut dibangun sebagai tempat menginap para wisatawan, sesuai dengan kondisi asli kehidupan ala Majapahit. Dengan hanya membayar seharga Rp 20.000 per orang per hari untuk menginap, wisatawan akan disiapkan alas tidur berupa tikar dari pandan dan bantal/dugel dari kayu randu.

Sensasi ala Majapahit juga makin terasa, ketika wisatawan disuguhi jajanan tradisional dan nasi jagung. Jika ingin menikmati kesenian tari, tak jauh dari rumah-rumah Majapahit itu juga terdapat sanggar tari yang bakal memberikan suguhan tarian tradisional. Bagi penikmat kerajinan perak, di Desa Bejijong dan Sentonorejo ada sentra kerajinan perak yang memproduksi barang kerajinan ala Majapahit.


Para penikmat destinasi wisata budaya, cukup mudah untuk mencapai lokasi tersebut. Jika menggunakan pesawat, maka begitu mendarat di Bandara Juanda, traveler bisa menyewa travel ke objek wisata, dengan waktu sekitar 45 menit sampai dengan satu jam perjalanan. Jika menggunakan bus dari Terminal Kertajaya Kota Mojokerto, jarak ke objek wisata hanya 11 km atau memakan waktu sekitar 15 menit. Begitu juga jika menggunakan moda Kereta Api, traveler bisa berangkat dari Stasiun Gubeng Surabaya ke Stasiun Mojokerto selama kira-kira satu jam, dan dilanjutkan dengan menumpang becak motor ke objek wisata selama 15 sampai dengan 20 menit. Yang pasti sensasi jaman keemasan Majapahit akan dirasakan para pengunjung di Rumah Majapahit itu.
Jika Anda ingin merasakan sensasi tinggal di rumah dengan model era kejayaan Kerajaan Majapahit, tidak ada salahnya datang ke Desa Bejijong, Sentonorejo dan Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Disana sekarang ini sudah berdiri ratusan rumah yang dibangun dengan arsitektur semirip mungkin dengan rumah-rumah di era Majapahit. Mengapa harus di Trowulan? Berdasarkan berbagai temuan arkeologi, kecamatan ini diyakini menjadi ibukota Kerajaan Majapahit ketika diperintah raja Tribhuwana Wijayatungga Dewi (tahun 1328-1372).


Adanya rumah Majapahit tersebut adalah program pemerintah, karena Trowulan menjadi cagar budaya nasional. Program tersebut dilakukan oleh pemprov dan pemkab untuk melestarikan cagar budaya dari Kerajaan majapahit. Maka dibuatlah replika-replika rumah Majapahit tersebut.

Sebagai destinasi wisata budaya, rumah Majapahit ini mulai dibangun sejak tahun 2015. Diawal pembangunannya, ada 299 rumah ala Majapahit yang di bangun di tiga desa, yaitu di Bejijong, Sentonorejo dan Jatipasar. Semua ketiga desa tersebut masuk ke dalam Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Setelah itu tahun 2016 ini, ada tambahan 300 unit rumah yang dibangun dan jangkauannya di tujuh desa, di antaranya Desa Trowulan dan Desa Watesumpak. Bahkan rencananya kedepan, akan ada 16 desa lagi yang dibangun rumah Majapahit, terutama desa-desa yang mempunyai banyak peninggalan pada jaman itu.


Karena replika, bangunan-bangunan tersebut dibuat semirip mungkin sesuai dengan deskripsi yang disampaikan oleh Mpu Prapanca. Rumah Majapahit dibangun dengan ciri khas pondasi tinggi dan penggunaan batu bata merah. Penggunaan batu bata merah adalah ciri bahan yang digunakan sebagaimana pada candi-candi peninggalan Majapahit. Selain itu penggunaan jendela jenis kupu tarung dan hiasan di atap rumah adalah ciri khas yang lain. Replika rumah benar-benar mendekati asli, karena dindingnya tanpa cat.


Luas bangunan rumah Majapahit mengikuti luasan tanah milik warga desa. Ada rumah dengan luas 4x5 m2, ada juga yang 3x4 m2. Rumah Majapahit itu bisa menampung 2-4 wisatawan. Yang pasti, sekarang ini bangunan-bangunan tersebut dibangun sebagai tempat menginap para wisatawan, sesuai dengan kondisi asli kehidupan ala Majapahit. Dengan hanya membayar seharga Rp 20.000 per orang per hari untuk menginap, wisatawan akan disiapkan alas tidur berupa tikar dari pandan dan bantal/dugel dari kayu randu.

Sensasi ala Majapahit juga makin terasa, ketika wisatawan disuguhi jajanan tradisional dan nasi jagung. Jika ingin menikmati kesenian tari, tak jauh dari rumah-rumah Majapahit itu juga terdapat sanggar tari yang bakal memberikan suguhan tarian tradisional. Bagi penikmat kerajinan perak, di Desa Bejijong dan Sentonorejo ada sentra kerajinan perak yang memproduksi barang kerajinan ala Majapahit.


Para penikmat destinasi wisata budaya, cukup mudah untuk mencapai lokasi tersebut. Jika menggunakan pesawat, maka begitu mendarat di Bandara Juanda, traveler bisa menyewa travel ke objek wisata, dengan waktu sekitar 45 menit sampai dengan satu jam perjalanan. Jika menggunakan bus dari Terminal Kertajaya Kota Mojokerto, jarak ke objek wisata hanya 11 km atau memakan waktu sekitar 15 menit. Begitu juga jika menggunakan moda Kereta Api, traveler bisa berangkat dari Stasiun Gubeng Surabaya ke Stasiun Mojokerto selama kira-kira satu jam, dan dilanjutkan dengan menumpang becak motor ke objek wisata selama 15 sampai dengan 20 menit. Yang pasti sensasi jaman keemasan Majapahit akan dirasakan para pengunjung di Rumah Majapahit itu.

Post a Comment

 
Top

Powered by themekiller.com